SkemaNusantara.com – Hari kedua di Taiwan menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan Jakfar Shodiq. Ia hampir tidak bisa makan karena kesulitan menemukan makanan halal. Satu per satu warung didatanginya. Dengan kemampuan bahasa Mandarin sederhana, ia bertanya apakah makanan yang dijual mengandung babi. Jawaban yang diterimanya hampir selalu sama.
Di depan gerbang kampus, Jakfar akhirnya duduk sendirian. Di negeri yang selama ini menjadi bagian dari mimpinya, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya, apakah ia benar-benar mampu bertahan?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan, Jauh sebelum tiba di Taiwan, pemuda asal Bangkalan, Madura, tersebut telah melewati perjalanan panjang untuk memperoleh kesempatan belajar di luar negeri. Sepuluh kali penolakan beasiswa pernah diterimanya. Kondisi ekonomi keluarga yang menurun setelah ayahnya meninggal juga sempat membuatnya khawatir tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi.
Namun, perjalanan Jakfar tidak berhenti pada berbagai kesulitan tersebut. Dukungan keluarga, bantuan orang-orang di sekitarnya, dan kemauannya untuk terus memperbaiki diri membawanya menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Islam Malang (UNISMA), meraih beasiswa magister di Taiwan, hingga memperoleh beasiswa doktoral dari Kementerian Pendidikan Taiwan atau Ministry of Education (MOE) untuk periode 2026–2030.
Bagi Jakfar, pencapaian tersebut bukan semata-mata tentang kecerdasan atau keberuntungan. Ada proses panjang yang harus dijalani, termasuk menerima kegagalan ketika kesempatan yang diharapkan belum juga datang.
“Kalau melihat ke belakang, saya merasa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi tentang siapa yang paling bertahan ketika berkali-kali gagal,” ungkapnya.

Berangkat dari Kesederhanaan
Jakfar berasal dari keluarga di Bangkalan, Madura. Ia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Cholil, tempat ia mengenal nilai kesederhanaan, kedisiplinan, solidaritas, dan pentingnya adab dalam kehidupan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari bekal yang dibawanya ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, ia memilih Program Studi Administrasi Publik di Universitas Islam Malang.
Keputusan untuk melanjutkan kuliah bukan berarti seluruh persoalan telah teratasi. Setelah ayahnya meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarga menurun cukup drastis. Biaya pendidikan menjadi salah satu kekhawatiran terbesar yang harus dihadapinya.
Jakfar bahkan tidak pernah membayangkan dirinya bisa menempuh pendidikan hingga ke luar negeri. Menyelesaikan kuliah sarjana saja sempat terasa sebagai sesuatu yang sulit dijangkau.
Dalam situasi tersebut, dukungan ibu, paman, dan orang-orang baik di sekitarnya menjadi bagian penting dari perjalanannya. Berkat dukungan itu, ia tetap dapat melanjutkan pendidikan dan menyelesaikan studi sarjananya.
Di Malang, Jakfar tidak hanya menjalani perkuliahan untuk memperoleh ijazah. Ia memanfaatkan lingkungan kampus sebagai ruang untuk mengembangkan diri melalui organisasi, penelitian, dan kegiatan akademik.
Ia dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi UNISMA pada 2022. Pada tahun yang sama, ia juga meraih prestasi dalam bidang kemahasiswaan. Pengalamannya terus berkembang ketika ia mengikuti penelitian, menjadi asisten dosen, dan menerbitkan buku.
Namun, berbagai pengalaman tersebut tidak serta-merta membuat jalannya menuju pendidikan luar negeri menjadi mudah. Ada banyak kesempatan yang harus dicoba sebelum akhirnya satu pintu terbuka.
Sepuluh Penolakan dan Keberanian untuk Mencoba Lagi
Sebelum memperoleh beasiswa ke Taiwan, Jakfar telah mengalami sepuluh kali penolakan beasiswa, baik dari program di dalam maupun luar negeri.
Setiap penolakan membuatnya harus mengevaluasi diri. Ia memperbaiki kemampuan bahasa Inggris, memperbanyak pengalaman organisasi, mengembangkan keterampilan penelitian, dan membangun rekam jejak akademik melalui publikasi ilmiah.
Baginya, kegagalan bukan alasan untuk menghentikan langkah. Pengalaman yang belum membawanya pada beasiswa justru memberikan kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru.
Selama menjalani proses tersebut, ia juga pernah menerima ucapan yang meremehkan mimpinya. “Halah, mimpi sekolah paling nanti akan jadi tai,” demikian kalimat yang masih diingatnya.
Ucapan itu menyakitkan. Namun, Jakfar memilih menjadikannya dorongan untuk terus berusaha. Ia tidak ingin masa depan ditentukan oleh penilaian orang lain terhadap keadaan dirinya saat itu.
Pengalaman menghadapi penolakan akhirnya mengajarkannya bahwa mempersiapkan diri jauh lebih penting daripada sekadar berharap pada kesempatan. Ia harus terus meningkatkan kemampuan dan menjaga konsistensi, bahkan ketika hasil yang diinginkan belum tercapai.
Usaha tersebut kemudian membawanya memperoleh Brilliant Scholarship untuk melanjutkan pendidikan magister di National Pingtung University (NPTU), Taiwan. Kesempatan ini menjadi langkah penting dalam perjalanan akademiknya sekaligus membuka pengalaman baru yang sebelumnya hanya menjadi impian.

Mimpi yang Berubah Menjadi Perjalanan
Keinginan Jakfar untuk belajar di luar negeri sebenarnya telah tumbuh sejak kecil. Ketika duduk di kelas lima sekolah dasar, pamannya pernah mengatakan bahwa ia harus belajar bahasa Inggris jika ingin pergi ke London.
Kalimat sederhana itu terus diingatnya hingga dewasa. Setelah lulus SMA, ia bahkan belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri. Dari sana, ia mulai memahami bahwa pendidikan bisa menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan keinginannya pergi ke luar negeri.
Namun, jalan hidup membawanya ke Taiwan, bukan London seperti yang pernah dibayangkannya.
Pada awalnya, ia menganggap Taiwan hanya sebagai batu loncatan untuk mencapai mimpi lainnya. Cara pandang tersebut berubah setelah seorang profesor di Malang menyampaikan nasihat yang terus diingatnya.
“Anggap saja Taiwan sebagai batu loncatan, dan percayalah, tidak akan pernah rugi jika batu loncatanmu adalah sekolah.”
Nasihat itu membuat Jakfar melihat Taiwan dengan cara berbeda. Ia tidak lagi menganggap negara tersebut sekadar tempat singgah, melainkan ruang untuk belajar, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Meski demikian, memulai kehidupan di negara baru tetap menghadirkan tantangan. Pengalaman kesulitan mencari makanan halal pada hari kedua menjadi salah satu ujian awal yang harus dilewatinya.
Di tengah kesulitan tersebut, ia bertemu orang-orang baik yang membantunya menemukan makanan halal dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu harus dilalui seorang diri. Ada bantuan yang datang dari orang-orang yang sebelumnya bahkan belum dikenalnya.
Dari pengalaman tersebut, Jakfar belajar untuk lebih menghargai pertolongan orang lain. Ia meyakini bahwa bantuan dapat hadir melalui pertemuan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.
Belajar Ilmu, Memahami Manusia
Pengalaman akademik di Taiwan turut memperluas pandangan Jakfar mengenai pendidikan dan kehidupan sosial. Menurutnya, perbedaan yang paling terasa bukan hanya berkaitan dengan teknologi atau fasilitas, tetapi juga budaya akademik dan cara masyarakat memperlakukan sesama.
Ia melihat penghargaan terhadap waktu, kedisiplinan, kejujuran, dan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dari kehidupan akademik di Taiwan. Diskusi, kebiasaan membaca, serta dorongan kepada mahasiswa untuk berpikir kritis dan aktif bertanya menjadi pengalaman yang membekas baginya.
Hal lain yang dirasakannya adalah perlakuan terhadap orang-orang dengan latar belakang berbeda. Sebagai warga Indonesia yang beragama Islam dan membawa kebudayaan berbeda, ia mengaku tidak merasa diperlakukan secara berbeda.
Pengalaman itu justru membuatnya merenungkan kembali nilai-nilai yang telah dikenalnya sejak belajar di pesantren. Kejujuran, penghargaan terhadap orang lain, amanah, dan kedisiplinan ternyata bukan hanya nilai yang dipelajari melalui pendidikan formal atau agama, melainkan juga harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Bagi Jakfar, pendidikan karena itu tidak cukup diukur melalui gelar yang diperoleh. Lebih dari itu, pendidikan seharusnya membentuk karakter, memperluas cara pandang, dan membuat seseorang mampu memperlakukan manusia lain dengan baik.
Pandangan tersebut berjalan seiring dengan minat akademiknya pada kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, ekonomi politik, serta kebijakan pendidikan dan pendidikan STEM. Pengalaman organisasi, penelitian, dan jurnalistik yang pernah dijalaninya turut menjadi bagian dari perjalanan intelektual tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Jakfar kembali memperoleh kesempatan melanjutkan studi doktoral melalui beasiswa penuh MOE Taiwan untuk periode 2026–2030. Baginya, kesempatan itu bukan akhir dari perjalanan, melainkan tanggung jawab baru untuk mengembangkan pengetahuan dan memberikan manfaat lebih luas.

Ilmu yang Harus Kembali Memberi Manfaat
Di balik pencapaian akademiknya, Jakfar menyimpan harapan agar ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai gelar atau ijazah. Ia ingin berkontribusi bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, kebijakan publik, dan pengembangan sumber daya manusia di Indonesia.
Ia juga berharap semakin banyak anak desa dan santri berani melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri. Menurutnya, keterbatasan kesempatan tidak selalu berarti keterbatasan kemampuan. Kurangnya informasi dan keberanian mencoba juga dapat menjadi penghalang bagi generasi muda untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi.
Jakfar menilai kualitas diri tetap harus menjadi prioritas. Relasi memang dapat membuka pintu kesempatan, tetapi kemampuan dan integritaslah yang membuat seseorang mampu mempertahankan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Dalam perjalanan panjangnya, ia juga tidak melupakan dukungan ibu dan mimpi almarhum ayahnya yang terus diperjuangkan. Di tengah berbagai pencapaian, dua hal itu menjadi bagian penting dari makna perjalanan yang telah dilaluinya.
Sepuluh kali penolakan tidak menghapus mimpinya. Kehilangan dan keterbatasan ekonomi tidak membuatnya berhenti belajar. Bahkan ketika akhirnya tiba di Taiwan, ia masih harus menghadapi persoalan sederhana yang mengingatkannya bahwa meraih kesempatan dan bertahan menjalaninya merupakan dua hal berbeda.
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke tahap baru dalam pendidikan doktoral. Namun, pesan yang ingin disampaikannya kepada generasi muda tetap berangkat dari pengalaman yang pernah ia lalui sendiri: jangan membatasi mimpi hanya karena keadaan hari ini.
“Saya selalu percaya bahwa mimpi tidak memilih siapa yang boleh memilikinya. Yang membedakan hanyalah siapa yang bersedia berjuang lebih lama untuk mewujudkannya,” tuturnya.



