Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Ekosistem Talenta Kreatif Jadi Modal Kota Malang Perluas Kolaborasi Global

Walikota Malang, Wahyu Hidayat, didampingi sejumlah kepala OPD, saat menghadiri WCCE 2026 di Jakarta.

SkemaNusantara.com – Pengembangan talenta muda dan ekosistem industri kreatif menjadi modal Kota Malang untuk memperluas kolaborasi internasional di bidang Media Arts. Potensi tersebut turut dibawa Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Forum internasional yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Luar Negeri itu mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”. Konferensi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kerja sama lintas negara dan mendorong ekonomi kreatif sebagai bagian dari pembangunan inklusif dan berkelanjutan.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam kesempatan tersebut menekankan pentingnya kemitraan internasional dalam mengembangkan rantai pasok ekonomi kreatif.

“Sejak awal diluncurkan, WCCE memegang visi untuk memacu kolaborasi internasional serta menjadikan ekonomi kreatif sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi inklusif,” paparnya.

Bagi Kota Malang, partisipasi dalam forum ini menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring global, menjajaki peluang kemitraan bisnis (business matching), serta mengikuti perkembangan industri kreatif internasional.

Kota Malang sendiri telah masuk UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada subsektor Media Arts. Pencapaian tersebut, menurut Wahyu, tidak terlepas dari upaya membangun ekosistem kreatif yang melibatkan generasi muda, akademisi, dan komunitas lokal.

Salah satu fasilitas yang dikembangkan Pemerintah Kota Malang untuk mendukung ekosistem tersebut adalah Malang Creative Center (MCC). Tempat ini berfungsi sebagai ruang kerja bersama sekaligus wadah kolaborasi bagi pelaku 17 subsektor ekonomi kreatif.

“Persiapan panjang ini kita lakukan berbasis potensi lokal. Salah satunya dengan mendirikan Malang Creative Center yang menjadi inkubator bagi talenta muda, mahasiswa, dan pelaku 17 subsektor ekonomi kreatif di Kota Malang,” tutur Wahyu, Kamis (22/10/2026).

Ia menjelaskan, fasilitas dan ekosistem kolaborasi di MCC menjadi bagian dari kesiapan Kota Malang saat menjalani penilaian UNESCO. Potensi daerah tersebut antara lain ditopang industri digital, khususnya pengembangan gim, animasi, dan digital storytelling.

Pengembangan Media Arts juga terhubung dengan subsektor lain, seperti sinematografi, perusahaan rintisan teknologi (startup), fesyen, kriya, dan seni pertunjukan. Keterkaitan antarsubsektor ini menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang dikembangkan di Kota Malang.

Dukungan terhadap sektor tersebut juga berasal dari keberadaan perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang menghasilkan talenta muda. Sejumlah sumber daya kreatif asal Malang telah terlibat dalam produksi animasi, di antaranya Wahyu Denis Kurniawan, alumnus SMKN 4 Malang yang terlibat dalam produksi film animasi layar lebar Jumbo, serta Tatik Setyowati yang turut menggarap serial animasi Kiko dan Vampirina.

Wahyu juga menilai sektor ekonomi kreatif berperan dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah. Ia menyebut sektor kreatif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut menopang perekonomian Kota Malang ketika menghadapi krisis pandemi global.

“Ini membuktikan daya tahan ekonomi kreatif kita sangat solid. Saya optimistis ekraf akan terus menjadi mesin pertumbuhan yang inklusif bagi seluruh warga,” tegasnya.

Pemerintah Kota Malang, lanjut Wahyu, ingin memastikan status sebagai kota kreatif UNESCO tidak berhenti sebagai pengakuan simbolis. Predikat tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pengembangan industri yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Kami ingin membuktikan bahwa pertumbuhan dari sektor ekonomi kreatif dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat Kota Malang,” pungkasnya.

Terpopuler