Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Atasi Bara Api di Dalam Timbunan Sampah, Pemkot Malang Koordinasikan Rencana Hujan Buatan

Wahyu Hidayat Wali Kota Malang

Malang – Pemerintah Kota Malang berencana mengupayakan hujan buatan untuk membantu memadamkan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang. Langkah tersebut akan dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, penanganan kebakaran di TPA Supit Urang menghadapi kendala karena bara api masih berada di dalam timbunan sampah, meskipun api di permukaan telah padam. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan pembasahan berulang hingga air menjangkau bagian terdalam tumpukan.

“Dengan hujan buatan ini, secara terus-menerus diharapkan resapan airnya bisa masuk ke dalam dan membasahi bara api yang ada di bawah tumpukan sampah. Harapannya, bara api tersebut bisa benar-benar padam,” ujar Wahyu, Jumat (23/10/2026).

Selain bara api yang tersembunyi, angin kencang juga menjadi tantangan dalam proses pemadaman. Menurut Wahyu, kondisi tersebut berpotensi memicu penyalaan kembali bara api dan memperluas kebakaran ke bagian timbunan sampah lainnya.

“Api di atas memang sudah tidak ada, tetapi asap membuktikan bahwa di bawah masih ada bara yang menyala. Ketika terkena angin, bara tersebut bisa membakar kembali,” jelasnya.

Wahyu menyebut, rencana hujan buatan masih perlu dibahas lebih lanjut bersama pihak terkait. Pertemuan Kepala BNPB dengan para kepala daerah se-Malang Raya yang dijadwalkan berlangsung di Kota Batu akan dimanfaatkan untuk menyampaikan kondisi terkini kebakaran sekaligus membicarakan kemungkinan penerapan teknologi modifikasi cuaca.

“Kami akan koordinasikan. Mudah-mudahan hujan buatan bisa dilakukan di Kota Malang. Namun, kami tetap berupaya menekan kebakaran melalui pembongkaran tumpukan sampah dan penyemprotan air hingga ke kedalaman,” katanya.

Sambil menunggu hasil koordinasi, Pemkot Malang melanjutkan penanganan melalui pembongkaran timbunan sampah dan pembasahan secara berkala. Penyemprotan air dilakukan hingga kedalaman sekitar empat sampai lima meter untuk menjangkau titik api tersembunyi atau hidden fire.

Wahyu menjelaskan, pemadaman kebakaran di kawasan timbunan sampah membutuhkan proses berbeda dibandingkan kebakaran biasa. Petugas harus membongkar bagian timbunan, membasahi material sampah secara berulang, kemudian menyemprotkan air hingga mencapai sumber bara.

“Penanganan kebakaran sampah ini berbeda. Kita harus membongkar tumpukan sampah, membasahinya terus-menerus, kemudian menyemprot sampai ke kedalaman. Prosesnya memang membutuhkan waktu,” imbuhnya.

Terpopuler