Oleh: Muchammad Nasrul Hamzah
Pesona keindahan Bromo yang eksotis, tenang dan sejuk rupanya berbanding terbalik dengan kondisi Pertiwi (Putri Marino). Tanah kelahirannya itu, menjadi saksi serangkaian hal buruk yang menimpanya.
Ia adalah korban pemerkosaan yang justru harus mendekam di penjara. Kondisi itu makin miris, manakala salah seorang anggota keluarga, justru menjadi narahubung kepada para predator seksual yang merupakan warga terpandang lingkungannya.
Pertiwi akhirnya memutuskan kembali pulang, setelah 20 tahun lamanya berteman jeruji besi. Ia melawan stigma. Melawan duka. Melawan segala trauma. Nahasnya, situasi tempat tinggalnya tidak berubah. Raras (Hanna Aretha), seorang remaja disabilitas juga mengalami kondisi serupa dirinya.
Begitulah kiranya ide cerita besar film Empat Musim Pertiwi yang diperankan Putri Marino, Christine Hakim, Arya Saloka hingga Hanna Aretha yang kini sedang membanjiri bioskop tanah air. Ditulis dan disutradari oleh Kamila Andini, film ini bak karya sastra yang ditopang sinematografi, akting hingga audio visual kelas atas. Pantas saja, Empat Musim Pertiwi menjadi jagoan Indonesia untuk ajang Piala Oscar 2027.
Semua aspek dalam film ini patut dibanggakan. Sebagai penulis dan sutradara, mungkin saja Kamila Andini sudah membayangkan Putri Marino yang akan memerankan sosok Pertiwi dalam karya monumentalnya.
Hal ini dijawab tuntas dengan akting Putri Marino yang kelewat istimewa. Bahkan, di awal film, hanya menatap wajah Pertiwi penonton sudah merasakan layer demi layer perasaan yang ia pendam sebelum keseluruhan cerita bergulir. Putri Marino membawakannya dengan porsi yang pas dan natural. Dialek bahasa Jawa-nya juga tidak sekadar bunyi.
Perjumpaan Pertiwi dan Raras akhirnya menggelindingkan naskah cerita ini secara simultan, dan sedikit demi sedikit penonton diajak membuka tabir yang ada di wilayah mereka tinggal. Raras yang digambarkan sebagai penyandang disabilitas juga tidak lepas dari kekejaman predator seksual yang pelakunya adalah orang orang terdekat dengannya.
Pesan ini disuarakan secara lantang oleh Kamila Andini sebagai bentuk kegelisahan dan kemarahannya. Perempuan tidak bisa merasa aman, bahkan di lingkungan yang mereka anggap paling aman.
Pemilihan karakter disabilitas yang hanya bisa berbicara dalam bahasa isyarat, merupakan perumpaan cerdas yang dikemas Kamila Andini secara elegan. Kita tahu bahwa hampir sebagian besar korban kekerasan seksual, tidak bisa mengungkapkan apa yang dialaminya karena berbagai faktor, salah satunya adalah ketakutan dan kepada siapa mereka harus membuang suara.
Terlebih, jika kebejatan itu dilakukan oleh orang-orang terdekat di lingkungan. Sebuah adegan dimana Raras yang bisu ingin menceritakan sendiri kepada polisi apa yang dialaminya adalah yang paling menyayat hati.
Perilaku bejat para predator seksual dalam film ini nampaknya tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh sistem dengan antek utamanya adalah para pimpinan desa dan makin tak tergoyahkan karena didukung oknum penegak hukum. Ditambah, kultur warga yang memilih diam saat melihat kejahatan makin membikin runyam suasana.
Tema itu masih ditambah dengan budaya patriarki yang masih lekat dibalut lagi unsur-unsur trik politik yang turut membingkai cerita. Belum selesai sampai disitu, tema mistis dan keyakinan akan adanya UFO juga dimasukkan, menambah beban pada inti cerita utama. Itulah kenapa di awal disebut, bahwa karya ini sangat ambisius karena memasukkan berbagai tema ke dalam satu wadah cerita.
Berbagai kerumitan dan keindahan itu makin megah dan istimewa berkat arsiran akting Christine Hakim yang tidak pernah gagal. Melakonkan sosok Mak Ira, mantan pelacur yang akhirnya terusir dari wilayahnya, Christine Hakim tidak saja penguat, melainkan bagian penting dari film ini.
Pemandangan Bromo yang indah, hening dan menakjubkan seolah-olah seolah menjadi aktris pendukung yang sangat memperkuat berbagai kemelut yang dihadapi tokoh utama. Bahasa-bahasa kasar dan umpatan yang ada dalam film ini laksana suara batin yang selama ini terpendam dan hanya mampu diteriakkan di hamparan kosong lautan pasir Bromo.
Akhirnya, baik Raras dan Pertiwi tidak mendapatkan apa yang diperjuangkan, yakni keadilan. Sistem yang bobrok merusak usahanya. Kuasa uang dan jabatan menghempaskan perjuangannya. Bahkan, warga baik yang diam saja makin menenggelamkan mereka dalam kepedihan. Disitulah bagian mistis akhirnya bekerja. Mencari keadilan dengan jalan kekuatan ghaib akhirnya menjadi penutup film ini. Menurut penulis, menutup film dengan cara itu sangat memuaskan.
Menghadirkan hati dan sejenak menyingsingkan logika berpikir adalah saran bagaimana cara menikmati film ini. Metode itu setidaknya bisa membawa penonton memperdalam luasnya emosi karakter Pertiwi yang bisa saja kini dialami oleh para wanita di luar sana.
Sejenak, mengambil tema kekerasan seksual dan mengangkatnya ke layar lebar merupakan ide yang diulang-ulang. Namun, jika merunut data dari Komnas Perempuan Tahun 2025, terdapat 376.529 kasus kekerasan terhadap perempuan dengan 37,5 persen adalah kasus kekerasan seksual, maka film dengan tema tersebut bukan saja layak diangkat namun wajib dikampanyekan secara massif.
Karya besar seperti Empat Musim Pertiwi inilah yang layak mendapatkan apresiasi. Ia melengkapi karya-karya dengan tema serupa seperti Yuni, Nana, Perempuan Berkelamin Darah, hingga Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak serta karya karya sineas lain yang mengangkat tema emansipasi dan perlawanan akan kekerasan seksual.



