Malang – Garda UMKM Malang Raya menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi 2 Tahun Asta Cita: Hilirisasi dan Masa Depan Industri di Jawa Timur” di Gedung Kastil, NK Cafe, Karangploso, Kabupaten Malang, Senin (26/10/2026).
Dalam diskusi tersebut, pengamat ekonomi sekaligus penulis buku Ekonomi Pancasila, Djoni Sudjatmoko, menegaskan hilirisasi dan industrialisasi harus dikawal bersama agar mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional.
Djoni mengaitkan agenda hilirisasi dengan Pasal 33 UUD 1945. Menurutnya, pembangunan ekonomi perlu melibatkan masyarakat, bukan hanya mengandalkan pemerintah.Djoni Sudjatmoko saat menjadi pembicara dalam diskusi publik Garda UMKM Malang Raya di NK Cafe, Kabupaten Malang, Senin (26/10/2026).
“Terkait dengan Asta Cita Presiden ini arahnya sudah benar, kesungguhannya juga sudah benar. Ini yang perlu kita kawal. Tanpa persatuan tidak ada kekuatan. Istilah populer kita adalah gotong royong. Tidak mungkin Presiden dan timnya menyejahterakan masyarakat tanpa bersama masyarakat,” ujarnya.
Djoni mencontohkan pengembangan biodiesel B50 berbasis sawit sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas. Ia juga menyoroti sektor pangan, seperti telur, ayam, dan susu, yang berpotensi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk masuk ke dalam rantai pasok pangan. Keterlibatan produsen lokal perlu diperkuat agar kebutuhan program tersebut turut membuka pasar bagi usaha daerah dan mendorong penyerapan tenaga kerja.

Direktur Eksekutif Progress Indonesia, Taufiq Amrullah, menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai penghubung aktivitas ekonomi Indonesia bagian barat, tengah, dan timur. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui hilirisasi agar daerah tidak hanya menjadi jalur distribusi, tetapi juga pusat pengolahan produk bernilai tambah.
Taufiq menjelaskan, hilirisasi merupakan proses mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi hingga produk jadi yang dapat dipasarkan di dalam negeri maupun internasional. Ia menilai pemahaman masyarakat mengenai agenda hilirisasi dalam Asta Cita perlu diperluas agar pelaku usaha lokal dapat mengambil bagian dalam pengembangan industri.
Ketua Garda UMKM Malang Raya, Ahmad Fuad Rahman, menambahkan pengembangan ekonomi daerah membutuhkan keterlibatan akademisi dan pelaku usaha. Menurutnya, Malang Raya memiliki potensi sumber daya pangan serta perguruan tinggi dengan tenaga ahli yang dapat mendukung inovasi dan meningkatkan daya saing UMKM.
Melalui diskusi tersebut, Garda UMKM Malang Raya mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat untuk mengoptimalkan potensi daerah. Hilirisasi diharapkan tidak berhenti pada pengolahan komoditas, tetapi juga memperluas peluang usaha dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan masyarakat.



