Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

MUI Minta Polemik Pernyataan Jusuf Kalla soal Ambon Tak Diperpanjang

SkemaNusantara.com– Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat menghentikan polemik terkait potongan pernyataan Jusuf Kalla mengenai memori kolektif peristiwa Ambon. MUI menilai polemik tersebut perlu diredam agar tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu harmoni sosial dan persatuan nasional.

Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan pernyataan yang beredar di ruang publik semestinya dipahami secara utuh. Menurutnya, pemotongan pernyataan dapat memunculkan kesalahpahaman dan mendorong munculnya interpretasi yang berbeda dari konteks awal.

“MUI menilai penting agar setiap pernyataan dipahami secara utuh dan komprehensif, bukan dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman,” ujar Zainut melalui keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/04/2026).

Ia meminta pernyataan Jusuf Kalla ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas, termasuk kiprahnya dalam proses perdamaian di Indonesia. MUI mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak pada penafsiran yang berpotensi memunculkan sentimen negatif.

Zainut menekankan bahwa sejarah bangsa seharusnya menjadi sumber pembelajaran atau ibrah. Berbagai pengalaman masa lalu, kata dia, dapat digunakan untuk memperkuat fondasi kebangsaan dan menjadi pelajaran bagi generasi penerus dalam menjaga kehidupan yang harmonis.

MUI juga mengajak masyarakat mengedepankan bahasa yang menyejukkan dan mempersatukan dalam menyikapi perbedaan. Kedewasaan dalam kehidupan berbangsa dinilai dapat terlihat dari kemampuan mengelola perbedaan menjadi energi positif.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi di media sosial, Zainut meminta masyarakat membangun kebiasaan husnuzan atau prasangka baik serta tabayun atau melakukan klarifikasi sebelum menyimpulkan suatu informasi. Sikap tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang disampaikan secara terfragmentasi.

“MUI mengajak seluruh pihak, terutama tokoh masyarakat dan agama, untuk tidak memperpanjang polemik yang tidak produktif dan berpotensi merusak kerukunan umat beragama,” tegasnya.

Menurut MUI, penguatan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wataniyah, dan ukhuwah basariyah tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan berbangsa. Nilai persaudaraan tersebut dinilai perlu dikedepankan ketika masyarakat menghadapi perbedaan pandangan.

“Tokoh-tokoh bangsa adalah guru bagi kita semua. Mari rawat pesan perdamaian dengan tutur kata santun dan hati yang jernih. Masa depan Indonesia yang damai adalah tanggung jawab bersama,” pungkas Zainut.

Terpopuler