SkemaNusantara.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyoroti besarnya kebutuhan air dan energi dalam pengoperasian teknologi Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, kebutuhan AI bukan hanya soal chip atau semikonduktor, tetapi juga sangat bergantung pada ketersediaan energi.
Stella menyebut kapasitas air minum yang setara dengan kebutuhan 1,2 juta orang telah dipakai untuk mengoperasikan teknologi AI. Air itu, menurutnya, pada akhirnya menguap akibat proses yang berkaitan dengan penggunaan AI.
“Tahun lalu itu air minum untuk 1,2 juta orang terevaporasi. Lenyap dari bumi ini dipakai oleh AI. Nah, jadi kesimpulannya yang membatasi AI atau yang sangat diperlukan AI itu adalah energi. Bukan chips, bukan semikonduktor,” ungkapnya dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, dikutip Senin (21/9/2026).
Bukan hanya air, AI juga rakus akan energi listrik. Kebutuhan pemakaiannya setara dengan satu negara di Benua Eropa. Sementara data center AI di Amerika sendiri menggunakan 155 triliun watt-jam (Wh).
“Teman-teman, AI itu rakus luar biasa. Seberapa rakusnya? Ini data center di Amerika Serikat, lihat. 11 gigawatt, 10 gigawatt, kalau dikumpulin semuanya itu, pada saat ini AI data center menggunakan 155 triliun watt hours (Wh),” kata Stella.
Ia melihat jumlah pemakaian listrik ini akan terus bertambah. Pada 2029, AI diprediksi akan menggunakan listrik setara dengan pemakaian se-Inggris Raya.
“2030 akan naik ke 465 triliun watt hours. Kalau susah ngebayangin ya, bayangin begini. Tahun lalu, pemakaian listrik energi, AI, itu sama dengan satu negara Latvia selama satu tahun. Tahun ini estimasinya sama dengan Romania,” katanya.
“Tahun depan Czechia (dulu Ceko-red) yang negaranya lebih kecil, tapi pemakaiannya lebih intensif. Dan 2028 itu sama dengan Italia, seluruh Italia harus bekerja keras menghasilkan listrik untuk AI. 2029 sama dengan Inggris Raya, dan setelah itu tidak ada lagi negara di Eropa yang bisa menyamai penggunaan listrik dari AI. Kita harus ke Kanada, begitu besarnya,” imbuhnya.
Potensi Indonesia
Di tengah tingginya kebutuhan energi dan air untuk AI, Stella melihat kondisi itu sekaligus dapat menjadi peluang bagi Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber energi yang besar, termasuk potensi energi terbarukan.
Ia mencontohkan energi surya, angin, hingga panas bumi. Stella menyebut Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia, meski menurutnya potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
“Ini menarik buat kita Indonesia karena jadi peluang. Kenapa peluang? Karena kita punya energi. Terutama lagi energi terbarukan. Surya, angin sudah tahu, tapi mungkin kalian belum tahu bahwa panas bumi kita adalah cadangan terbesar nomor dua di dunia. Tapi belum kita optimalkan,” kata Stella.
Selain energi terbarukan, Stella juga menyoroti potensi hidrogen alami di Indonesia. Ia mengatakan temuan terbaru menunjukkan Indonesia memiliki cadangan hidrogen alami yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
“Dan baru-baru ini kita menemukan bahwa cadangan hidrogen alami kita sangat besar kemungkinan salah satu terbesar di dunia. Penemuan baru. Jadi kita ada kesempatan. Dan saya mau, kita bahas yuk. Menyeramkan AI itu karena rakusnya luar biasa terhadap energi dan air, atau kita bahkan bisa jadi juara, karena kita punya peluang, kita punya banyak energi,” tuturnya.



