Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Trump Tolak Kekhawatiran AI, Tak Mau AS Kalah dari China

donald trump dan AI
Presiden AS Donald Trump (Sumber: Istimewa)

SkemaNusantara.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis seruan agar pengembangan kecerdasan buatan (AI) diperlambat karena alasan risiko keselamatan. Kekhawatiran utamanya justru lain: ia tidak ingin AS kehilangan keunggulan dalam persaingan teknologi dengan China.

Saat berbicara kepada wartawan di Irlandia pada Minggu waktu setempat (13/9/2026), Trump menilai sejumlah pihak membesar-besarkan skenario buruk AI yang menurutnya belum tentu terjadi. Ia menegaskan AS harus tetap berada di depan.

“Kami memimpin China dalam AI. Kami negara paling maju di dunia, dan terus terang saya ingin mempertahankannya,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Senin (14/9/2026). “Siapa pun yang memenangkan AI, dia yang menang.”

Trump menyebut ada “kekuatan-kekuatan sangat negatif” yang mengangkat kekhawatiran tentang hal-hal yang menurutnya tidak akan terjadi. Meski begitu, ia tidak menolak seluruh bentuk regulasi. Menurutnya, aturan pengaman atau guardrails tetap bisa diterapkan, walau ia tidak menjelaskan bentuk aturan yang ia dukung.

Pernyataan Trump muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei meminta perusahaan AI memperlambat peningkatan kemampuan model. Tujuannya memberi waktu bagi pengujian dan sistem keselamatan untuk mengejar.

Dalam esai yang terbit akhir pekan sebelumnya, Amodei memperingatkan sebuah skenario: dalam enam hingga 12 bulan, kawanan agen AI yang lebih canggih bisa memiliki kemampuan mengambil alih infrastruktur internet melalui botnet bila kemampuan sistem berkembang tanpa pengamanan yang memadai. Skenario itu merupakan perkiraan risiko Amodei, bukan kejadian yang dipastikan akan berlangsung.

Amodei mengusulkan tiga langkah. Pertama, memberi evaluator independen akses mendalam untuk memeriksa praktik keselamatan perusahaan. Kedua, menyusun standar bersama antarperusahaan AI. Ketiga, mengupayakan koordinasi internasional. Ia menegaskan usulnya bukan berarti menghentikan seluruh pelatihan model atau kemajuan teknologi.

CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk turut menyatakan dukungan terhadap seruan memperkuat pengawasan keselamatan tersebut, menurut Reuters.

Meski berbeda dengan Trump soal perlunya memperlambat laju pengembangan, Amodei juga mengakui persoalan China. Ia menulis bahwa pembatasan yang membuat AS tertinggal dari China dapat menimbulkan risiko keamanan nasional.

Perbedaan utamanya terletak pada cara menjaga keunggulan AS sambil memastikan kemampuan AI tidak melampaui pengamanannya.

Sejauh ini, komentar Trump belum disertai pengumuman perubahan aturan AI. Perdebatan antara kecepatan pengembangan dan keselamatan pun masih terbuka, baik di pemerintah AS maupun di antara para pemimpin industri.

Terpopuler