Rabu, 28 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Menakar Makna Sumpah Pemuda di Kota Pendidikan

Oleh: Moh Farhan Aziz*

Malang – Setiap 28 Oktober, kita kembali mengenang Sumpah Pemuda sebagai tonggak persatuan bangsa. Ikrar yang lahir pada 1928 itu menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia dibangun melalui cita-cita bersama. Namun, hampir satu abad berlalu, bagaimana semangat itu menemukan maknanya dalam kehidupan anak muda hari ini?

Di Kota Malang, pertanyaan tersebut layak direnungkan. Dikenal sebagai kota pendidikan, Malang menjadi tempat bagi banyak anak muda untuk menimba ilmu dan menggantungkan harapan. Mereka datang dengan cita-cita, menempuh pendidikan, lalu bersiap menghadapi kehidupan setelah lulus. Sayangnya, jalan menuju masa depan tidak selalu semudah yang dibayangkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat jumlah penganggur pada 2025 mencapai 27.710 orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka sebesar 5,69 persen. Di antaranya terdapat 7.099 lulusan SMK dan 4.483 lulusan perguruan tinggi.

Angka tersebut bukan alasan untuk menyalahkan satu pihak. Namun, data itu mengingatkan kita bahwa pendidikan dan kesempatan kerja masih menjadi persoalan yang perlu dijembatani. Sebab, bagi anak muda, pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, melainkan juga ikhtiar untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Kota Pendidikan dan Masa Depan Pemuda

Menjadi kota pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan lembaga pendidikan dan menghasilkan lulusan. Kota juga perlu membangun ekosistem yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan berkembang menjadi peluang nyata.

Pemerintah Kota Malang telah menggelar berbagai upaya, salah satunya melalui bursa kerja. Pada September 2026, job fair yang diselenggarakan pemerintah kota melibatkan 50 perusahaan dengan total 1.697 lowongan pekerjaan. Langkah ini patut diapresiasi, tetapi persoalan ketenagakerjaan membutuhkan upaya yang berkelanjutan.

Kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, sekolah vokasi, dan dunia usaha perlu diperkuat agar keterampilan lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. Selain itu, ekonomi kreatif juga perlu mendapat perhatian. Anak muda yang ingin membangun usaha kuliner, mengembangkan produk lokal, atau berkarya di bidang digital membutuhkan akses pendampingan, pasar, dan pembiayaan yang memadai.

Dengan dukungan tersebut, anak muda tidak hanya diposisikan sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta peluang dan penggerak kehidupan ekonomi kota.

Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda mengajarkan pentingnya menyatukan cita-cita demi masa depan bersama. Dalam konteks Kota Malang, semangat itu dapat diwujudkan melalui upaya membuka kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi.

Pemerintah perlu memastikan kebijakan menjawab kebutuhan nyata. Perguruan tinggi harus terus menghubungkan pendidikan dengan kehidupan setelah kelulusan. Dunia usaha perlu memberi ruang bagi tenaga kerja muda untuk belajar dan berkembang. Sementara itu, generasi muda juga perlu terus mengasah kemampuan dan berani mengambil bagian dalam pembangunan.

Pada akhirnya, menakar makna Sumpah Pemuda di kota pendidikan berarti melihat lebih jauh dari semarak peringatan setiap Oktober. Kita perlu bertanya apakah kota ini telah memberi ruang yang cukup bagi anak mudanya untuk tumbuh dan memperjuangkan masa depan.

Sebab, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya diwariskan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesempatan yang nyata. Dan kota pendidikan akan semakin bermakna ketika ilmu yang tumbuh di dalamnya dapat menjadi jalan bagi generasi muda untuk membangun masa depan.

*) Penulis Merupakan Mahasiswa Pascasarjana ADM Publik Unisma

**) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi skemanusantara.com

Terpopuler