Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Dito Arief Dukung Terminal Arjosari Masuk Rute Trans Jatim Koridor 2

Malang – Keterhubungan Terminal Arjosari dengan layanan Trans Jatim Koridor 2 di Malang Raya perlu menjadi perhatian pemerintah. Ketua Fraksi NasDem-PSI DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, mendukung aspirasi masyarakat agar simpul transportasi tersebut masuk dalam perencanaan rute.

Dito menilai Terminal Arjosari memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang transportasi regional. Integrasi dengan Trans Jatim dinilai penting untuk memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus menghubungkan berbagai moda transportasi. (21/10/2026)

“Kalau konsep atau gagasannya adalah Trans Jatim sebagai pintu gerbang sebagaimana di koridor lain di kota kabupaten lain, maka sebetulnya kalau masuk di Malang Raya, pintu utamanya adalah di Karangploso atau di Arjosari,” ujar Dito.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang itu menegaskan, pengembangan transportasi massal tidak cukup hanya dengan membuka rute baru. Pemerintah perlu memastikan layanan tersebut terhubung dengan simpul transportasi yang telah menjadi pusat pergerakan masyarakat.

Status Terminal Arjosari yang berada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan juga menjadi pertimbangan penting dalam membangun jaringan transportasi regional. Dito berharap pengembangan Trans Jatim tidak berhenti pada satu koridor, tetapi diperluas dengan menghubungkan Terminal Madyopuro, Terminal Hamid Rusdi, Kepanjen, Karangploso, hingga Kota Batu. Akses menuju Bandara Abdulrachman Saleh juga perlu dipertimbangkan.

Meski demikian, penentuan rute harus didasarkan pada kajian teknis yang objektif. Dito mendorong Dinas Perhubungan melibatkan ahli transportasi dan perguruan tinggi agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Yang kita perjuangkan ini adalah kepentingan masyarakat luas, kepentingan masyarakat umum,” tegasnya.

Dito juga menyoroti perlunya penataan angkutan kota (angkot) agar tetap berperan dalam sistem transportasi Malang Raya. Menurutnya, angkot dapat dikembangkan sebagai angkutan pengumpan atau feeder yang menghubungkan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat dengan layanan transportasi utama.

Skema angkutan pelajar hingga pengaturan ulang rute angkot dapat menjadi bagian dari penataan tersebut. Dengan begitu, integrasi transportasi umum diharapkan meningkatkan kemudahan perjalanan masyarakat tanpa mengabaikan keberlangsungan penghidupan pengemudi angkot.

FDTM Minta Rute Ditinjau

Sebelumnya, Forum Diskusi Transportasi Malang (FDTM) menyampaikan keberatan atas tidak masuknya Terminal Arjosari dalam rencana layanan Trans Jatim Koridor 2. Aspirasi itu disampaikan melalui nota tertanggal 19 Oktober 2026 kepada Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur.

FDTM meminta pemerintah meninjau kembali keputusan rute dengan mengutamakan kebutuhan pengguna transportasi. Mereka menilai, tidak terhubungnya Trans Jatim dengan Terminal Arjosari berpotensi menambah waktu perjalanan, biaya, waktu tunggu, serta kebutuhan perpindahan moda bagi penumpang.

FDTM juga menekankan bahwa angkot semestinya berperan sebagai feeder yang mendukung konektivitas transportasi, bukan menjadi alasan untuk mengesampingkan integrasi antarmoda.

Melalui nota tersebut, FDTM turut meminta pemerintah membuka dialog bermakna dengan pengguna transportasi dan masyarakat terdampak. Pengembangan transportasi umum di Malang Raya diharapkan berpijak pada aksesibilitas dan kepentingan publik.

Terpopuler