Rabu, 28 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Refleksi Sumpah Pemuda, Prof Ahmad Barizi Ajak Generasi Muda Belajar dari Ashabul-Kahfi

Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, MA Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Malana Malik Ibrahim Malang.

Malang – Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Ahmad Barizi, mengajak generasi muda menjadikan kisah Ashabul-Kahfi sebagai refleksi dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda. Kisah tersebut dinilai mengandung pesan tentang keberanian mempertahankan keimanan, idealisme, dan prinsip di tengah tekanan lingkungan maupun kekuasaan.

Menurut Barizi, pemuda Ashabul-Kahfi merupakan gambaran generasi yang berani berbeda dari arus mayoritas demi mempertahankan keyakinan. Mereka memilih mengasingkan diri ke gua untuk menyelamatkan iman ketika berhadapan dengan lingkungan dan penguasa yang bertentangan dengan prinsip mereka. Rabu (28/10/2026).

Barizi menjelaskan, kisah Ashabul-Kahfi tidak hanya berkaitan dengan tokoh dalam sejarah, tetapi juga menggambarkan karakter pemuda yang dapat hadir di setiap zaman. Ia menyebut mereka sebagai pemuda yang saleh secara tradisional sekaligus modern, yakni memiliki iman yang kuat, berpikir kritis dan rasional, serta berani berbeda pendapat dari mayoritas maupun penguasa.

“Meminjam istilah filsafat, mereka adalah pemuda saleh secara tradisi yaitu imannya kuat, berani menolak kekufuran. Sekaligus saleh modern ialah kritis, rasional, berani berbeda pendapat dari mayoritas dan penguasa,” Ujar Barizi.

Ia menilai, nilai-nilai tersebut relevan bagi generasi muda Indonesia di tengah tantangan pragmatisme dan kecenderungan mengejar kemewahan dunia. Menurutnya, pemuda perlu menjaga keimanan, kejujuran, dan idealisme serta terlibat dalam persoalan kemanusiaan dan kebangsaan.

Barizi menekankan bahwa keberpihakan terhadap keadilan dan kemanusiaan harus dijalankan secara konsisten. Pemuda tidak cukup hanya memiliki gagasan, tetapi juga perlu berani memperjuangkan prinsip meskipun harus menghadapi tekanan atau berada di luar arus utama.

“Pada konteks hari pemuda ini kiranya penting lahirnya pemuda yang kritis dan berani serta konsisten mempertahankan keimanan, kejujuran, dan idealismenya untuk dan demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang berkeadilan bagi semua,” tulisnya.

Barizi juga menghubungkan kisah Ashabul-Kahfi dengan sejarah Sumpah Pemuda 1928. Kala itu, para pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatra, dan Jong Ambon, melampaui identitas kesukuan untuk membangun persatuan sebagai bangsa Indonesia.

Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dirawat agar generasi muda tidak terjebak pada kepentingan kelompok maupun sikap pragmatis. Persatuan Indonesia, dalam pandangannya, menuntut keberanian untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas ego kedaerahan.

Ia turut menggambarkan kampus dan universitas sebagai ruang untuk menyemai daya kritis serta kepekaan sosial. Lingkungan akademik diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi persoalan masyarakat dan mendorong perubahan.

“Ashabul Kahfi mengajarkan bahwa pemuda harus berani menyelamatkan imannya dengan hijrah ke gua, maka Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa pemuda harus berani menyelamatkan bangsanya dengan hijrah dari ego ‘kesukuan’ dan oligarki menuju persatuan Indonesia yang sejati,” tulis Barizi.

Melalui refleksi tersebut, Barizi mengajak generasi muda menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai pengingat untuk menjaga idealisme, memperkuat persatuan, dan memperjuangkan keadilan serta kemanusiaan. Semangat pemuda, menurut gagasan yang disampaikannya, perlu diwujudkan melalui keberanian bersikap dan konsistensi dalam mengabdi kepada bangsa.

Terpopuler