Malang – Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk merefleksikan penerapan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan publik. Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Malang, Suryadi, menegaskan bahwa identitas santri tidak cukup ditunjukkan melalui simbol pakaian, tetapi harus tercermin dalam etika, moral, dan perilaku sehari-hari.
Sebagai alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni yang lulus pada 2009, Suryadi menilai nilai-nilai kesantrian harus tetap menjadi pedoman ketika seseorang terjun ke masyarakat, termasuk dalam politik dan pemerintahan. Kamis (22/10/2026).
“Napas santri yang sesungguhnya adalah etika dan moral. Bukan semata-mata karena seseorang berkopyah atau bersarung, lalu merasa paling santri. Kesantrian itu tercermin dari bagaimana seseorang bersikap, menjaga amanah, menghormati sesama, dan mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya,” ungkap Suryadi.
Menurutnya, pendidikan pesantren membentuk karakter yang disiplin, tangguh, sederhana, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut semestinya menjadi landasan dalam menjalankan kewenangan, mengambil keputusan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Suryadi menekankan, etika dan moral tidak boleh berhenti sebagai ajaran dalam pengajian. Keduanya harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama ketika seseorang memegang amanah publik dan dituntut menjaga kepercayaan masyarakat.
Momentum Hari Santri, lanjutnya, juga menjadi ruang refleksi bagi masyarakat, khususnya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Nilai kesantrian perlu diukur dari perilaku dan kontribusi nyata, bukan semata-mata dari identitas atau pengalaman pernah belajar di pondok.
“Hari Santri harus menjadi pengingat bahwa ukuran pengabdian bukanlah simbol yang kita kenakan, melainkan nilai yang kita perjuangkan dan dampak yang kita hadirkan. Santri harus hadir membawa solusi, menjaga moralitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap, nilai-nilai pesantren terus menjadi landasan dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kemuliaan seorang santri, menurut Suryadi, tercermin dari akhlak, integritas, keberpihakan pada kebenaran, serta kontribusinya bagi kemaslahatan umat.
Peringatan Hari Santri Nasional diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat untuk merawat tradisi pesantren, menjaga moralitas, dan memperkuat pengabdian kepada negeri.



