Senin, 26 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Pertemuan Elite Politik Dinilai Jadi Ruang Prabowo Redam Polarisasi

SkemaNusantara.com – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah elite politik dan para presiden terdahulu pada momentum Ramadan dinilai memiliki makna lebih luas dari sekadar silaturahmi. Pengamat politik Nurul Fatta melihat forum tersebut dapat menjadi ruang komunikasi untuk menjaga perbedaan pandangan politik tetap berada dalam jalur dialog.

Menurut Fatta, pertemuan yang berlangsung dalam suasana Ramadan memang dapat dipahami sebagai agenda silaturahmi, sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Namun, pola komunikasi semacam itu juga dinilai menjadi bagian dari pendekatan Prabowo sejak awal menjabat sebagai presiden.

“Karena momentum keagamaan sering kali menjadi ruang yang cukup cair untuk membangun komunikasi di antara elite politik. Namun, jika kita tarik lebih jauh, ini bukan sesuatu yang baru dilakukan Presiden,” ujar Nurul Fatta, Rabu, 4 Maret 2026.

Fatta mengatakan Prabowo sebelumnya juga kerap membangun komunikasi secara langsung dengan ketua umum partai maupun sejumlah tokoh politik. Pola tersebut, menurut dia, kembali terlihat ketika pemerintah menghadapi tekanan demonstrasi pada Agustus lalu.

“Ini tampak menjadi ciri khas gaya kepemimpinannya saat ini. Presiden mungkin tidak ingin membiarkan isu-isu berkembang liar, ia memilih mempertemukan para pemangku kepentingan dalam satu forum komunikasi. Apalagi di bulan Ramadan, serasa teduh melihat tokoh-tokoh politik saling berkumpul,” jelasnya.

Selain persoalan komunikasi politik di dalam negeri, Fatta melihat pertemuan tersebut relevan dengan situasi global yang sedang berkembang. Konflik di Timur Tengah dan rivalitas kekuatan besar dinilai dapat berdampak terhadap ekonomi dunia serta membutuhkan kehati-hatian pemerintah dalam menentukan sikap.

Dalam konteks itu, pengalaman para mantan presiden, wakil presiden, hingga mantan menteri luar negeri dinilai dapat menjadi salah satu sumber pertimbangan bagi pemerintah. Mereka memiliki pengalaman menghadapi berbagai situasi dan dinamika hubungan internasional.

“Misal konflik di Timur Tengah, rivalitas kekuatan besar, serta dampaknya terhadap ekonomi dunia tentu menuntut kehati-hatian dalam menentukan posisi. Di sinilah pengalaman para presiden, wakil presiden, maupun menteri luar negeri sebelumnya menjadi relevan. Pengalaman mereka dalam menghadapi krisis global bisa menjadi sumber pertimbangan strategis presiden,” paparnya.

Fatta juga mengaitkan forum komunikasi elite tersebut dengan kritik yang sebelumnya disampaikan sejumlah tokoh publik, termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mengenai sikap pemerintah dalam merespons konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, perbedaan pandangan yang tidak memperoleh ruang dialog berpotensi berkembang menjadi perdebatan di ruang publik. Karena itu, komunikasi langsung antartokoh dapat menjadi sarana untuk menjaga perbedaan sikap tetap berada dalam koridor pembahasan politik.

“Ya barangkali, kritik-kritik yang dilontarkan tokoh publik jika dibiarkan tanpa ruang dialog bisa berkembang menjadi opini publik yang liar. Dengan mengumpulkan para tokoh, presiden seolah ingin memastikan bahwa perbedaan pandangan tetap berada dalam koridor komunikasi, bukan lagi terpolarisasi,” pungkasnya.

Terpopuler