Rabu, 28 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Sembilan Karya Santri Lolos Final Santrivision 2026, dari Riset hingga Inovasi AI

Yusi Damayanti Direktur Pemberdayaan Pesantren Kemenag.

Jakarta – Sembilan karya santri dari berbagai pondok pesantren di Indonesia terpilih sebagai finalis Santrivision 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag). Karya yang lolos mencakup riset kebijakan, film, seni visual, hingga pengembangan teknologi digital berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Sembilan finalis tersebut terbagi dalam tiga kategori, yakni naskah, kebijakan dan komunikasi ilmiah; audio-visual, seni visual dan media digital; serta inovasi digital dan teknologi pesantren. Ajang ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026.

Direktur Pemberdayaan Pesantren Kemenag, Yusi Damayanti, mengatakan Santrivision dirancang untuk memperlihatkan kemampuan santri dalam mengembangkan gagasan dan inovasi yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Sudah saatnya kita mengoreksi sudut pandang tersebut. Karakter dasar sekaligus cognitive nature santri dan keilmuan Pesantren justru selalu bersinergi dengan dinamika zaman. Tradisi keilmuan Islam (turats) yang dipelajari para santri bukanlah dogma kaku, melainkan fondasi epistemologis yang terus bergerak dinamis merespons tantangan dari masa ke masa,” ujar Yusi di Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Menurut Yusi, para finalis mendapat pendampingan melalui program Mentoring Expert yang dijadwalkan pada 26–27 Oktober 2026. Program ini dirancang untuk membantu peserta menyempurnakan karya sebelum menghadapi penilaian akhir di hadapan dewan juri.

“Kami membangun tradisi baru di lingkungan Kementerian Agama dengan memberikan klinik pembekalan intensif kepada para finalis sebelum mereka tampil di babak uji akhir di hadapan dewan juri yang telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 1236 Tahun 2026. Yang membanggakan, seluruh praktisi dan profesional yang kami hadirkan sebagai mentor tak lain merupakan alumni Pesantren,” tegasnya.

Pendampingan melibatkan akademisi, tenaga ahli DPR RI, praktisi media, dan pakar teknologi informasi dari kalangan alumni pesantren. Materinya meliputi penyusunan policy brief dan artikel ilmiah berbasis riset, pengembangan narasi visual dan seni digital, serta perancangan aplikasi, platform digital, dan inovasi AI untuk kebutuhan pesantren.

Tiga Kategori, Sembilan Finalis

Pada kategori Naskah, Kebijakan dan Komunikasi Ilmiah, tiga karya yang masuk final adalah:

  • Fatimah Econex dari Pondok Pesantren Modern Al-Fatimah, Jawa Timur, melalui policy paper “Belanja Pesantren untuk Pesantren: Halal Procurement Network Pesantren (HPNP) sebagai Model Penguatan Sirkulasi Ekonomi Antar Pesantren di Indonesia”.
  • Lisa Nurul Efendi dari Pondok Pesantren Agribisnis Muhammadiyah Nawawi Djamil, Riau, dengan policy paper “Mewujudkan Pesantren Zero-Abuse: Standardisasi Tata Ruang dan Pembentukan Satgas ‘Saka Pesantren’ Berbasis Asas Victim-Centered Approach Terintegrasi PMA 73/2022”.
  • Alifa Khalda dari Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan, melalui artikel ilmiah “Bio-Herloops: Model Eco-Pesantren Berbasis Closed Loop System melalui Biokonversi Hermetia Illucens untuk Akselerasi Zero Waste”.

Kategori Audio-Visual, Seni Visual dan Media Digital diisi oleh tiga finalis. Mereka adalah Al Baidlowi Creative Media dari Pondok Pesantren Al Baidlowi, Yogyakarta, dengan film pendek “Sowan: Ilmu yang Lahir dari Langkah, Doa dan Pertemuan”; Ahmad Rafiq dari Pondok Pesantren Daarul Rahman 1 Jakarta dengan film “Ghaflah”; serta Abdullah Husain sebagai ketua tim dari Miftahul Huda Kalinyamatan Jepara, Jawa Tengah, dengan film dokumenter “Amaliah yang Mengakar di Sanubari Nahdliyin”.

Sementara itu, kategori Inovasi Digital dan Teknologi Pesantren menetapkan tiga finalis, yakni Khadim AI dari PP Darul Falah Amtsilati Jepara, Jawa Tengah, dengan situs web “Asistensi Layanan Laporan Digital Berbasis AI Menuju Pesantren Ramah Anak”; Takrir dari Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Ibnu Katsir, Kepulauan Riau, dengan aplikasi “Takrir”; serta Oman dari Pondok Pesantren Salafiyah Modern Madinatul Amin, Jawa Tengah, melalui aplikasi “MOCHI: Menjaga Ilmu. Memudahkan Akses.”

Selain mengikuti tahapan penilaian, seluruh finalis diwajibkan melakukan konfirmasi kepada panitia melalui email santrivision2026@kemenag.go.id menggunakan alamat yang didaftarkan saat pengiriman karya. Konfirmasi tersebut diperlukan untuk memperoleh undangan, jadwal pendampingan, dan informasi lanjutan terkait kompetisi.

Melalui Santrivision 2026, Kemenag berharap potensi santri dalam bidang riset, komunikasi ilmiah, seni kreatif, dan teknologi semakin berkembang. Karya-karya yang terpilih diharapkan tidak berhenti sebagai peserta kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi pesantren dan masyarakat.

Terpopuler