Minggu, 25 Oktober 2026

REDAKSI

ad468x60px

Antasyafi Robby Al-Hilmi Raih Emas World Climbing Series, Hasil Transformasi Mental

Antasyafi Robby Al-Hilmi meraih medali emas nomor Speed Individual Men dalam ajang World Climbing Series (WCS) 2026 di Guiyang, China
Antasyafi Robby Al-Hilmi dalam ajang World Climbing Series (WCS) 2026 di Guiyang, China (Sumber: Istimewa)

SkemaNusantara.com – Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mencatatkan prestasi di kancah internasional. Antasyafi Robby Al-Hilmi meraih medali emas nomor Speed Individual Men dalam ajang World Climbing Series (WCS) 2026 di Guiyang, China, pada 11-13 September lalu.

Bagi Robby, pencapaian ini sekaligus sejarah baru. Medali tersebut merupakan emas internasional pertamanya sepanjang karier di tingkat global.

Robby tampil mengesankan pada seri kelima WCS dengan catatan waktu 4,65 detik di babak final. Catatan waktu itu membuatnya unggul dari atlet tuan rumah dan perwakilan Jepang.

“Perjuangannya penuh suka duka, terutama saat harus menghadapi ketidakpastian pemberangkatan. Alhamdulillah, beberapa minggu sebelum laga kami mendapat kepastian dari pemerintah sehingga bisa fokus penuh dalam pertandingan,” kata Robby, dikutip dari Unesa pada Senin (21/9/2026).

Sudah Diawali di Kompetisi di Eropa

Sebelum berkompetisi di China, Robby lebih dulu mengikuti rangkaian kompetisi di Eropa pada Juli. Ia meraih medali perak nomor Mixed Relay di Polandia, lalu medali perak nomor Individual Speed di Chamonix, Prancis.

Setelah dari Eropa, atlet asal Gresik itu ditunjuk sebagai sparring partner untuk tim nasional yang akan berlomba di ASEAN Games. Ia juga diarahkan mengumpulkan poin dunia dalam rangkaian perhelatan WCS.

Alami Transformasi Mental

Pada laga-laga gold race sebelumnya, Robby kerap gagal meraih emas karena beban psikologis dan ambisi berlebihan untuk menunjukkan kapasitas sebagai atlet muda. Namun emas di Guiyang merupakan buah dari transformasi mentalnya.

“Saya dulu terlalu sibuk ingin membuktikan diri. Ketika masuk final gold race, rasa ingin menang itu terlalu besar sampai saya lupa menikmati proses yang sudah dijalani,” ujarnya.

Transformasi sudut pandang mulai terbangun ketika ia intens berdiskusi dengan psikolog olahraga, rekan sejawat, dan para senior di Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Ia belajar melepaskan ekspektasi berlebih dan fokus memberi penampilan terbaik.

“Saat di Guiyang, saya tidak memasang target muluk. Yang saya lakukan hanyalah berjuang untuk Merah Putih dan memberikan yang terbaik buat bangsa. Alhamdulillah, dari pola pikir itulah lahir emas pertama saya,” jelasnya.

Robby tidak ingin larut dalam euforia. Ia sudah mengalihkan fokus ke seri keenam WCS di Chongqing yang digelar pada 18-20 September.

Menurutnya, kemenangan di Guiyang adalah cerita kemarin dan kompetisi baru dimulai dari titik nol. Gelar pemenang, katanya, hanya berlaku untuk kemarin.

“Hari ini saya kembali bukan siapa-siapa, melainkan kontestan yang memiliki peluang sama dengan peserta lainnya,” sebutnya.

Terpopuler